Biaya pendidikan jarang turun dari tahun ke tahun. Orang tua yang baru memikirkannya ketika anak sudah hampir masuk sekolah menengah atau kuliah sering kaget melihat angka yang harus disiapkan dalam waktu singkat. Kabar baiknya, dana pendidikan anak bisa dicicil dengan nyaman bila dimulai lebih awal. Kuncinya bukan penghasilan yang besar, melainkan hitungan yang jelas dan kebiasaan yang konsisten.

Mulai dari Tujuan yang Jelas

Sebelum bicara angka, tentukan dulu gambaran pendidikan yang ingin disiapkan. Pertanyaan yang membantu:

  • Anak akan masuk jenjang apa dan kapan, misalnya sekolah dasar dalam dua tahun atau perguruan tinggi sepuluh tahun lagi?
  • Apakah negerinya, swasta, atau luar negeri?
  • Apakah dana ini untuk seluruh biaya atau hanya sebagian, dengan sisanya dari beasiswa atau penghasilan keluarga saat itu?

Tujuan yang berbeda menghasilkan kebutuhan dana yang berbeda. Tidak ada yang salah, tetapi semuanya perlu diputuskan agar perhitungan tidak mengambang.

Hitung Biaya di Masa Depan

Biaya pendidikan hari ini tidak sama dengan biaya saat anak Anda masuk nanti, karena harga cenderung naik. Cara menghitungnya sederhana:

Biaya masa depan = biaya sekarang × (1 + kenaikan tahunan) pangkat jumlah tahun

Sebagai contoh, anggap biaya satu jenjang saat ini Rp50 juta, anak masuk dalam 10 tahun, dan Anda mengasumsikan kenaikan 8 persen per tahun. Perhitungannya: 50 juta × 1,08 pangkat 10, hasilnya sekitar Rp108 juta. Angka asumsi kenaikan ini hanya contoh. Tanyakan biaya terkini ke sekolah atau kampus yang Anda tuju, dan gunakan asumsi kenaikan yang masuk akal serta bisa diperbarui setiap tahun.

Ubah Menjadi Tabungan Bulanan

Setelah tahu targetnya, bagi dengan jumlah bulan yang tersisa. Dari contoh di atas, Rp108 juta dalam 120 bulan berarti sekitar Rp900 ribu per bulan, bahkan tanpa memperhitungkan imbal hasil. Jika dana ditempatkan pada instrumen yang menghasilkan, setoran bulanan yang dibutuhkan bisa lebih kecil, tetapi imbal hasil tidak pernah pasti, jadi jangan menjadikannya satu-satunya andalan.

Bila angkanya terasa berat, ada tiga jalan: mulai dari jumlah kecil lalu naikkan seiring pendapatan, perpanjang jangka waktu, atau turunkan target dan lengkapi dengan jalur beasiswa.

Pilih Instrumen Sesuai Jangka Waktu

Prinsip umumnya: semakin dekat waktu dipakai, semakin aman instrumennya.

  1. Kurang dari 3 tahun. Tabungan, deposito, atau reksa dana pasar uang. Tujuannya menjaga nilai pokok, bukan mengejar untung. Pastikan bank berizin dan simpanannya dijamin LPS.
  2. 3 sampai 10 tahun. Kombinasi instrumen berisiko rendah sampai menengah, seperti reksa dana pendapatan tetap atau campuran, sesuai toleransi risiko Anda. Nilainya bisa naik turun, jadi pahami dulu sebelum membeli.
  3. Lebih dari 10 tahun. Porsi instrumen bertumbuh bisa lebih besar, dengan peralihan bertahap ke instrumen lebih aman saat tujuan mendekat.

Tidak ada produk yang cocok untuk semua orang. Periksa legalitas penyedia di OJK, baca profil risiko, dan jangan memasukkan seluruh dana ke satu instrumen.

Tentang Asuransi Pendidikan

Asuransi pendidikan menggabungkan perlindungan dan tabungan. Keunggulannya adalah disiplin setoran dan adanya santunan bila terjadi risiko pada orang tua. Kekurangannya, ada biaya dan pembatasan pencairan di awal, serta imbal hasil yang perlu dibandingkan dengan alternatif lain. Baca polis dengan teliti: berapa persen setoran yang benar-benar menjadi dana, kapan bisa dicairkan, dan apa yang terjadi bila Anda berhenti membayar. Pilihan lain adalah memisahkan perlindungan lewat asuransi jiwa berjangka dan menabung lewat instrumen terpisah.

Lindungi Dulu Fondasinya

Dana pendidikan akan terganggu bila keluarga tidak punya fondasi. Pastikan beberapa hal ini sudah ada:

  • Dana darurat agar kebutuhan mendadak tidak memaksa Anda mencairkan dana pendidikan.
  • Perlindungan kesehatan supaya biaya rumah sakit tidak menggerus tabungan.
  • Pelunasan utang konsumtif berbunga tinggi, karena bunganya biasanya lebih besar daripada imbal hasil tabungan.
  • Perlindungan jiwa bagi pencari nafkah, supaya rencana pendidikan tetap berjalan bila terjadi hal buruk.

Manfaatkan Jalur Lain

Dana tabungan bukan satu-satunya sumber. Pelajari program beasiswa dan bantuan pendidikan, misalnya KIP Kuliah dan beasiswa dari kampus atau lembaga lain, beserta syaratnya. Nilai akademik, prestasi, dan keterampilan anak membuka pintu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Namun jangan menggantungkan seluruh rencana pada beasiswa, karena tidak ada jaminan akan mendapatkannya.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Menunda sampai anak besar, lalu terpaksa menyetor jumlah besar sekaligus.
  • Mengabaikan kenaikan biaya, sehingga target terlalu rendah.
  • Menaruh dana jangka pendek di instrumen berisiko tinggi.
  • Mencairkan tabungan pendidikan untuk kebutuhan konsumtif.
  • Tidak meninjau rencana setiap tahun.

Penutup

Dana pendidikan anak paling ringan bila dimulai sedini mungkin. Langkah pertama minggu ini: tentukan jenjang dan kampus atau sekolah tujuan, cari perkiraan biayanya, hitung biaya masa depan dengan rumus sederhana di atas, lalu bagi menjadi setoran bulanan. Setelah itu pasang pembayaran otomatis dan tinjau setahun sekali. Konsistensi kecil hari ini jauh lebih berharga daripada rencana besar yang tak pernah dimulai.